Perkembangan Dunia Startup Mendorong Kemajuan Indonesia

Sebagian masyarakat Indonesia mengenal kata ‘Startup’  dan sebagian lainnya hanya penikmatnya. Jika kita tengok ke halaman Wikipedia Indonesia, Startup adalah sebuah perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat.

Perkembangan startup di Indonesia bisa dikatakan sangat pesat, lantaran banyak para Founder (pemilik) startup baru bermunculan atau memamerkan dirinya di ranah dunia startup. Dari data lembaga riset Center for Human Genetic Research (CHGR), setidaknya ada 2.000 startup lokal di Tanah Air pada 2016, tertinggi di Asia Tenggara. Pada 2020, CHGR memproyeksi jumlahnya bisa mencapai 6,5 kali lipat atau 13.000 startup. Pertumbuhan startup juga terlihat dari belanja sektor teknologi informasi yang meningkat dari Rp 199 triliun pada 2015 menjadi Rp 214 triliun pada tahun lalu, yang dilansir pada halaman Kumparan. Oleh karena itu, data-data di atas merupakan sebuah topik utama dalam menunjang tulisan yang diperuntukkan dalam lomba #StartupLyfe #DWVlogCompetition #MyRepublicIndonesia.

Sumber: APJII

Hal ini didukung oleh pengguna internet Indonesia yang terus meningkat setiap tahunnya dan tentunya ini adalah sebuah lahan basah untuk mendirikan dan membangun sebuah startup. Menurut data yang dilansir pada halaman MenKominfo menyatakan bahwa pengguna internet di Indonesia hingga saat ini telah mencapai 82 juta orang, dari jumlah pengguna internet tersebut, 80 persen di antaranya adalah remaja berusia 15-19 tahun. Dengan capaian tersebut, Indonesia berada pada peringkat ke-8 di dunia. Selain itu, Indonesia adalah “raksasa teknologi digital Asia yang sedang tertidur”. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa adalah pasar yang besar. Pengguna smartphone Indonesia juga bertumbuh dengan pesat. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Sedangkan menurut data yang dilansir pada halaman Indenpenden.id menyatakan bahwa pengguna media sosial di Indonesia terus tumbuh. Riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan 132,7 juta penduduk Indonesia aktif di dunia maya. Sekitar 97 persen di antaranya aktif di media sosial. Facebook masih menempati posisi tertinggi mencapai 71,6 juta atau 54 persen.

Sumber: APJII

Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyatakan bahwa masyarakat Indonesia lebih dominan dalam menggunakan Mobile (Gadget) dan Komputer dalam menggunakan Internet sebagai penunjang medianya. Dengan presentanse Mobile dan Komputer sebesar 50.7%, Mobile 47.6% dan Komputer 1.7% , hal ini menunjukkan bahwa Mobile bisa dikatakan sebagai media yang dominan dalam mengakses internet.

Sumber: APJII

Sedangkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyatakan bahwa pengguna Smartphone sebanyak 67.8%, Komputer / PC sebanyak 14.7%, Laptop sebanyak 12.6% dan Tablet 3.8% yang mengakses internet melalui berbagai macam browser dengan presentase Google Chrome yang berada di puncak atas sebanyak 66.6% ini menyatakan bahwa pengguna Internet masih berdominan oleh pengguna smartphone atau gadget.

Dari data-data di atas merupakan ada beberapa faktor pendukung bahwa Gadget selalu berada di posisi atas; dikarenakan gadget dirancang sedemikian rupa atau fleksibel sehingga dapat dibawa kemana-mana. Selain itu, gadget memiliki manfaat lain, yaitu mempelancar komunikasi, mengakses informasi, hiburan, wawasan bertambah dan gaya hidup. Dengan kepekaan masyarakat terhadap kemajuan teknologi, sehingga para Founder (pemilik) mendirikan startup guna merangkul calon konsumen secara keseluruhan ataupun batasan daerah dan melancarkan aksinya dengan berbagai macam promosi di media sosial yang seringkali dibuka setiap waktu oleh pengguna internet, sehingga ada istilah kata ‘Internet Marketing’, yang di mana bisa dikatakan adalah promosi di dunia digital atau tidak turun ke jalan membagikan brosur.

Sumber: Freepik

Berbicara tentang startup, kalau ada salah satu startup yang dibicarakan oleh masyarakat Indonesia yaitu Gojek. Tidak disangka-sangka, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh kita malah memberikan dampak positif bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI); menambah penghasilan negara, mempermudah masyarakat, menghemat tarif, dan lapangan pekerjaan. Walaupun terbilang usianya masih muda, tetapi Aplikasi Gojek sudah memberikan bukti nyata kepada para pesaingnya, lantaran berbagai investor mengguyur dana segar kepada Gojek sehingga harga saham dari Gojek cukup mengejutkan, kini bernilai 38 Triliun.

Kehadiran startup membawa perubahan yang signifikan, karena keberadaannya membuat manusia dimanjakan oleh buah pikir manusia itu sendiri atau bisa dikatakan Aplikasi sebagai penunjang kehidupan sehari-hari. Startup bagaikan dua mata pisau; yang di mana tajam dan tumpul saling berdampingan, ia tidak bisa dipisahkan. Jika startup terus dikembangkan (diasah), maka ia akan terus utuh bahkan sampai membuka cabang di berbagai daerah maupun negara-negara yang memiliki pangsa pasar yang besar. Tetapi, jika startup tetap dibiarkan atau tidak dikembangkan, maka jangka waktu perusahaan startup tidak bertahan lama, karena ia tidak mau keluar dari zona nyaman sehingga produk yang dijualkan kalah saing dengan pesaingnya.

Pendirian startup tidak selalu mulus atau lancar jaya, pasti akan mengalami penurunan maupun penaikkan yang signifikan. Jika kita ingin mendirikan startup, kita harus membakar uang; yang dimaksud membakar uang adalah berani untuk membuang uang demi kemajuan perusahaan startup tersebut. Sebab, membakar uang adalah cara yang efektif untuk mengenalkan perusahaan startup yang baru saja hadir di sebuah negara. Salah satu membakar uangnya adalah membuat harga promosi pada produk/jasa yang ditawarkan oleh perusahaan startup, dengan begitu, jikalau pelayanannya memuaskan, maka ia akan menceritakan ke kerabat dekatnya, keluarga ataupun lingkungan sekitarnya dan sebaliknya. Oleh karena itu, sebelum mendirikan perusahaan startup, kita harus membaca pasar; sesuatu apa yang sedang dibutuhkan dan bagaimana jangka panjang untuk perusahaan yang hendak didirikan. Jikalau di awal saja kita salah membaca peluang pasar, maka bisa dikatakan bahwa kita akan gagal atau tidak bertahan lama.

Tidak hanya dari sisi kemudahan dari pengguna startup, dan ternyata adapula kontra dengan kehadiran perusahaan startup. Akhir-akhir ini yang sangat menonjol di Indonesia adalah supir angkutan umum, ojek pangkalan, becak maupun taksi konvensional yang menentang keras terhadap kehadiran Ojek online maupun taksi online, mereka menganggap bahwa kehadiran ojek online maupun taksi online itu menurunkan hasil pendapatannya atau sepi penumpang. Menurut Sembiring, seorang penarik becak, mengatakan “Kami menolak angkutan online karena menyebabkan penghasilan kami turun drastis. Sudah enggak makan kami. Mereka pun bukan angkutan umum yang legal, tidak punya izin seperti kami yang menggunakan pelat kuning,” yang dilansir pada halaman Merdeka.com.

Konflik kehadiran transportasi online dengan transportasi konvensional semakin merambah ke berbagai daerah, sehingga pemerintah mengambil sebuah solusi, Menurut Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, pertama solusi yang diberikan adalah agar bisnis transpotasi memberi pelayanan publik yang nyaman dan efisien. Kedua, pemerintah mendorong agar bisnis transportasi harus berbasis jalan raya dan mengikuti perkembangan publik. Ketiga, sarana transportasinya harus mengikuti ketentuan undang-undang lalu lintas angkutan jalan. Jonan menegaskan, untuk transportasi berbasis online seperti Grab Car dan Taksi Uber, pemerintah mencontohkan agar perusahaan transportasi online harus berbadan hukum, Yayasan, Koperasi, perseroan terbatas atau masuk dalam Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau BUMD (Daerah). Lalu juga harus memiliki izin sebagai sarana transportasi. Ini untuk keamanan penumpang sendiri, yang dilansir pada halaman SindoNews.

Oleh karena itu, pro dan kontra terhadap perusahaan startup akan tetap ada. Tinggal bagaimana caranya kita bertindak atau mengambil keputusan, karena jikalau kita terus menerus berada di zona nyaman atau tidak ada inovasi, maka bisa dikatakan bahwa perusahaan yang kita dirikan perlahan akan mengalami kebangkrutan atau gelar tikar. Perkembangan teknologi yang terus mengundang selera untuk berpikir maju, sehingga aku (penulis) memutuskan mendirikan sebuah startup di bidang Pariwisata.

Sumber: Dokumen Pribadi

Pariwisata di Indonesia merupakan sektor ekonomi penting di Indonesia. Pada tahun 2009, pariwisata menempati urutan ketiga dalam hal penerimaan devisa setelah komoditi minyak dan gas bumi serta minyak kelapa sawit. Berdasarkan data tahun 2016, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia sebesar 11.525.963 juta lebih atau tumbuh sebesar 10,79% dibandingkan tahun sebelumnya.  Sekitar 59% turis berkunjung ke Indonesia untuk tujuan liburan, sementara 38% untuk tujuan bisnis, yang dilansir pada halaman Wikipedia Indonesia. Selain itu, informasi yang peroleh oleh penulis bahwa pemerintah maupun lembaga/organisasi yang sedang gencar-gencarnya memperkenalkan wisata-wisata di Indonesia ke penduduk lokal maupun asing guna memberikan nilai tambah pada sebuah daerah di Indonesia. Dengan adanya sebuah dorongan untuk berpikir ke depan demi negara dan bangsa, penulis memutuskan untuk mendirikan sebuah startup bidang Pariwisata, yang bernama Jakarta – Tangerang Backpacker lalu disingkat menjadi JATAKER.

Dalam pendirian startup ini cukuplah unik, karena dengan bermodal kecil tetapi memiliki potensi yang besar. Rata-rata dari semua para Founder (Pemilik) pasti akan mengalami susah tidur, karena akan ada namanya tidur pagi dan bangun pagi, untuk melihat aspek apa yang mengalami perubahan, kesalahan ataupun hal lainnya. Tidak hanya itu saja, akan ada namanya bakar uang, yang dimaksud adalah media promosi untuk memperkenalkan startup yang kita dirikan kepada masyarakat. Ada beberapa yang menganggap bahwa pendirian startup itu mudah; kalau punya uang, pasti berjalan. Tetapi, sesuai kenyataan itu cukuplah sulit dan harus tahan banting, karena ada yang harus dipertimbangkan dari segi perancangan, metode yang digunakan, bahasa pemograman yang digunakan, database yang digunakan dan hal-hal penunjang dalam mendirikan startup, hal ini untuk keberlangsungan startup secara jangka panjang maupun jangka pendek; kita harus pintar membaca pasar kita, atau kita sebagai pelopor pada pasar kita.

Sebelumnya, kita ketahui bahwa pengguna internet  Indonesia terus meningkat setiap tahunnya dan kunjungan wisatawan ke berbagai daerah di Indonesia terus bertambah. Dengan hal ini, penulis memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memecahkan sebuah masalah yang terjadi di bidang Pariwisata, dengan memiliki ruang lingkup yang lebih spesifik; Jakarta dan Tangerang.

METODE APA YANG DIGUNAKAN JATAKER ?

Dalam mendirikan startup JATAKER bahwa adanya metodologi rekayasa perangkat lunak untuk keberlangsungan startup yang didirikan, yaitu metode Waterfall. Adapun tahapan-tahapan penelitian dalam menggunakan metode ini, sebagai berikut:

1. Analisa Kebutuhan

Dalam tahapan ini, penulis mulai merancang dengan mengumpulkan data mengenai penelitian yang berhubungan dalam pembuatan Aplikasi JATAKER, dari aspek jangka panjang maupun pendek untuk mengetahui perkembangan atau perubahan yang akan terjadi di sewaktu-waktu.

2. Desain Sistem

Dalam tahapan ini, penulis mulai merancang sebuah desain tampilan pada sistem dengan menggunakan Unified Modelling Language (UML), karena rata-rata dari seorang analis sistem menggunakan metode tersebut untuk dibuatkan oleh seorang programmer (perancang bahasa pemograman) hasil analisanya. Desainnya dari pengguna terhadap sistem (antarmuka) yang dibuat secara user friendly agar tidak bosan berada di depan sistem.

3. implementasi atau Pengujan Unit

Dalam tahapan ini, penulis mulai merancang sebuah sistem yan menerapkan kode program sesuai dengan desain sistem yang telah dirancang sebelumnya, dan kemudian diterapkan dengan bahasa pemoraman beserta databasenya.

4. Pengoperasian dan Pemeliharaan

Dalam tahapan ini, penulis melakukan pemantauan yang terus dilakukan, apakah ada ketidaksesuaian dalam aplikasi yang telah dibuat, seperti adanya kesalahan kode pemograman atau error aupun atabase yaang tidak menyesuaikan.

Dengan metode waterfall, penulis berharap startup yang didirikan dapat membantu wisatawan asing maupun lokal dalam mencari informasi dari tempat wisata yang dikunjungi, karena startup ini menyediakan pemandu wisata yang profesional serta kelebihan pemahaman beberapa jenis bahasa. Tidak hanya itu saja, JATAKER pun mendirikan sebuah stand di salah satu Pameran di Jakarta, selengkapnya berada di dalam video:

 


Pict utama: Freepik

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *