Jakarta Biennale 2017 Membuka Pintu Gerbang Seni

Seniman mempunyai caranya sendiri untuk mengutarakan perasaannya, kegelisahannya ataupun hal-hal lainnya yang membuatnya terus berpikir untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat; lewat sebuah karya yang diciptakan memiliki nilai tersendiri, maupun kepuasan pribadi dan biarkan karya-karyanya berbicara di hadapan para penikmatnya. Terkadang, karya-karya yang telah diciptakan pun diapresiasikan oleh dirinya sendiri maupun orang-orang terdekatnya, sehingga Jakarta Biennale hadir dengan cara-cara sederhana, yaitu: menampilkan karya-karya para seniman di dalam sebuah acara seni.

Jakarta Biennale 2017
Jakarta Biennale 2017

Jakarta Biennale merupakan merupakan perhelatan akbar seni rupa kontemporer Indonesia yang dilangsungkan setiap dua tahun sekali. Pertama kali digagas oleh Dewan Kesenian Jakarta pada 1974 dengan nama Pameran Besar Seni Lukis Indonesia. Sejak 2009, Jakarta Biennale diselenggarakan dalam skala Internasional. Kegiatan ini terakhir digelar pada 2015 dengan tajuk “Maju Kena Mundur Kena: Bertindak Sekarang.” Pada Jakarta Biennale 2017, Melati Suryodarmo dipilih sebagai Artistik Direktur, dengan mengangkat konsep “Jiwa” sebagai gagasan artistiknya, yang dilansir pada halaman Jakarta Biennale.

Jakarta Biennale 2017

 

Pada tahun 2017, Jakarta Biennale mengangkat sebuah tema “Jiwa” yang memiliki makna sebagai semangat yang terwujud dalam setiap unsur kesenian, sebuah ranah imajinasi dan penciptaan dalam ruang dan waktu. Jiwa sebagai semangat berarti jiwa sebagai identitas. Sebuah pembeda yang berguna untuk merangkum atau memisahkan satuan wujud yang niscaya diperlukan dalam kehidupan. Selain itu, jiwa sebagai kondisi niscaya sebuah sistem kepercayaan yang selalu berupaya memberi makna pada kehidupan. Dulu, segala aspek kehidupan bertumpu pada lingkaran kehidupan atau sebuah sistem kepercayaan. Melalui sistem kepercayaan itulah jiwa lahir; tidak ada satu pun yang luput dari jiwa. Termasuk juga daya cipta, yang dilansir pada halaman Jakarta Biennale.

Seniman Jakarta Biennale 2017
Seniman Jakarta Biennale 2017

Jakarta Biennale 2017 menggaet 51 seniman Indonesia dan mancanegara, di antaranya adalah Abdi Karya (Indonesia), Afrizal Malna (Indonesia), Dwi Putro Mulyono atau Pak Wi (Indonesia), Otty Widasari (Indonesia), Aliansyah Caniago (Indonesia), Alastair MacLennan (Inggris), Alexey Klyuykov, Vasil Artamonov & Dominik Forman (Republik Ceko), Ali Al-Fatlawi & Watiq Al-Ameri (Swiss), Arin Rungjang (Thailand), Em’kal Eyongakpa (Cameroon), Eva Kot’átková (Republik Ceko), I Made Djirna (Indonesia), I Wayan Sadra (Indonesia), Luc Tuymans (Belgia), Ximena Cuevas (Meksiko), dan lain-lain.

Penulis akan memaparkan beberapa karya seni yang dipamerkan di Jakarta Biennale 2017 beserta tafsiran karya tersebut versi saya, sebagai berikut:

1. Em’Kal Eyongakpa – Untitled Thirty-seven

Jakarta Biennale 2017
Jakarta Biennale 2017

Em’Kal Eyongakpa – Untitled Thirty-seven merupakan sebuah jiwa yang terpenjara; karena ruangan yang gelap dan hampa. Adapun sebuah benda pendukung untuk menguatkan tafsiran saya, yaitu sebuah bangku kosong yang diletakkan sendiri yang diibaratkan sebuah perenungan serta beberapa batu-batu yang diibaratkan sebuah beban. Kesimpulannya, sebuah jiwa yang ingin berontak untuk keluar dari sebuah penjara kehidupan.

2. Ali Al-Fatlawi dan Wathiq Al-Ameri

Jakarta Biennale 2017
Jakarta Biennale 2017

Ali Al-Fatlawi dan Wathiq Al-Ameri merupakan sebuah cerminan tentang kehidupan; karena adanya rasa takut, harapan, maupun rasa gentar. Penafsiran ini berdasarkan objek-objek pendukung; dua orang yang sedang berduduk berhadapan, antara pemakai baju putih dengan menggenggam bunga mawar pertanda ada sebuah harapan, dengan dihadapan bara api di depannya itu pertanda sebuah rasa takut serta kehadiran seseorang dengan berpakaian baju sipil serta pelindung kepalanya itu sebuah rasa gentar. 

Sebelum menutup pembahasan kali ini, saya akan memaparkan keseruan di Jakarta Biennale 2017 dengan menampilkan sebuah video di bawah ini:

Dan jangan lupa untuk mengikuti akun media sosial Jakarta Biennale, di bawah ini:


Video: Kompas Tv

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *