Paradigma Hati

Terjatuh dan tersingkir dalam pertarungan logika dan rasa. Bertarung di dalam ring untuk memperebutkan sebuah kekuasaan yang disaksikan oleh orang-orang yang merasa dirinya sudah dewasa dalam menyikapinya, sedangkan aku masih anak kecil yang terjebak dalam perasaan yang dilema. Hatiku pun berkata “kamu harus bijaksana dalam mengambil keputusan.”, tetapi logika enggan untuk berucap; karena begitu banyak pertumpahan darah yang menyebabkan batinnya tersiksa hingga ia hampir putus asa.

Dalam selimut kehampaan, hati ini berjalan sendirian untuk mencari jati diri dan sedangkan logika terdiam menyaksikan kepergian hati. Nyanyian elegi menghiasi ruangan ini, dengan doa-doa yang dipanjatkan sejak dini. Aku berharap ada sebuah lentera yang datang untuk menghiasi kehidupan cinta, tanpa harus adanya pertumpahan darah yang begitu menyiksa pemiliknya.

* Melalui paradigma hati ini; semoga aku, kamu, dia bahkan mereka pun belajar tentang sebuah pandangan kehidupan cinta yang seringkali salah kaprah dalam menyikapi setiap permasalahan. Maka, sayangi seseorang yang menyanyangimu, karena dia adalah sosok yang sedang memperjuangkan dirimu dan janganlah mencari sosok yang sempurna, karena setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri.


Pict: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *