Puisi: Mantera Menangkap Buaya

Puisi dari Mantera menangkap buaya merupakan karya yang telah dibukukan dalam buku kultum pertiwi ‘buku 3’ pada halaman 9-10. Puisi mantera ini memaparkan sebuah diksi-diksi yang membuat pembaca terhasut dalam suasana atau saat membacanya seolah kita membaca mantra, dan berikut puisi dari Mantera menangkap buaya.

III. MANTERA
Puisi: Mantera Menangkap Buaya

"Hai si Jambu Rakai, sambut perkiriman
Puteri Runduk di Gunung Ledang:
              Ambacang masak sebiji bulat,
              pengikat tujuh pengikat,
              pengarang tujuh pengarang,
              diorak dikembang jangan,
              lulur lalu telan!
              tidak engkau sambut,
              dua hari, jangan ketiga,
              mati mampek, mati mawai,
              mati tersadai pangkalan tambang!
              kalau engkau sambut,
              dua hari, jangan tiga,
              ke darat kau dapat makan,
              ke laut kau dapat minum!
              aku tahu asal kaujadi,
              tanah liat asal kaujadi,
              tulang buku tebu asal kaujadi,
              darah kau gula, dada kau upih,
              gigi kau tunjang berembang,
              ridip kau cucuran atap"

             (Kalau buaya masih melawan, dibacakan mantera berikut):

             "Pasu jantang, pasu rencana,
             tutup pasu, penolak pasu,
             engkau menantang kepada aku,
             terjentang mata kau,
             jantung kau aku jantung,
             hati kau sudah kurantai!
             si pulut namanya usar,
             berderai daun sulasi,
             aku tutup hati yan besar,
             aku gantung lidah yang fasik,
             Jantung kau sudah kugantung,
             Hati kau sudah kurantai,
             rantai Allah, rantai Muhammad,
             rantai Baginda Rasulullah



Pict: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *