Cerpen: Pelangi di Malam Hari

Cerpen di malam mimpi merupakan salah satu jenis karya sastra yang telah menjadi salah satu karya yang dibukukan dalam buku Enigma dengan penerbit ellunar. Selain itu, cerpen ini menunjukkan bahwa tidak adanya sebuah pelangi di malam hari; hanya ada kegelapan, kesunyian dan kesendirian yang dirasakan, sama halnya kisah percintaan ini yang diambil dari kisah nyata dengan nama tokoh yang berbeda. Selamat menikmati

 

Cerpen: Pelangi di Malam Hari
Oleh: Otak Kusut

Akhir-akhir ini, malam selalu diselimuti oleh rintik-rintik hujan yang manja. Sejak saat itu, aku menjelma menjadi lelaki di balik pohon, yang menatap sendu ke arah rumahmu; karena hujan di malam hari adalah kenangan yang paling manis di antara kita berdua. Aku mengingat kau menari-nari bahagia di saat hujan
malam tiba, dan kau pun pernah berkata “Meski hujan malam tak menyajikan pelangi, kita yang akan
merangkai keindahan itu; karena cinta kita bagaikan pelangi, berbeda warna tapi bila disatukan akan terlihat indah.”
Dan ketika itu, aku sangat yakin bahwa kau adalah wanita yang dititipkan oleh Tuhan untuk menemaniku sampai akhir hayat.

Aku yang masih saja menjadi lelaki di balik pohon, mengharapkan kau keluar ‘tuk menikmatinya walau hanya sesaat.
Di saat itu pula, aku yakin bahwa kau masih mengingat kisah cinta kita berdua. Tetapi sudah terlalu lama tubuhku merasa menggigil, dihantam oleh tangisan-tangisan sang langit. Aku pun berusaha menahan rasa dingin, hanya untuk memastikan dirimu baik-baik saja dan mengingat kisah cinta kita berdua. Hujan malam pun berhenti, aku yang hendak pulang dikejutkan oleh sosok pria yang menghampiri rumahmu dengan membawa sekuntum bunga mawar. Di saat itu pula, pikiranku tertuju pada kekasih barumu. Mungkin dulu, aku bukan prioritas utamamu melainkan bahan percobaanmu. Aku yang terlalu mencintai, malah kau pergi sesuka hati. Sudahlah, mungkin kau sudah bahagia dengan dirinya, biarkan aku bercumbu dengan kesepian.

Aku pun pergi dari hadapan rumahnya, dengan rasa kesal berselimut rindu. Iringan kakiku pun menyetubuhi sisa-sisa
tangisan hujan malam ini.
“Randy! Tunggu!”
Aku mengenal suara itu, suara yang tak lagi asing terlintas dalam gendangan telingaku. Suara yang selalu kurindukan selama hidupku. Aku yang sudah hafal dengan suara itu, tersontak menoleh ke belakang. Ternyata, suara itu berasal dari seorang gadis yang berambut hitam panjang, kulit yang putih mulus, badan yang aduhai seksinya, dihiasi oleh pakaian yang indah seperti tinggal di dalam istana. Dia adalah Shinta, mantan kekasihku.
“Eh, kamu, Shinta. Apa kabar?” tanyaku, dengan menampilkan raut wajah yang ceria dan tersenyum manja.
Padahal hatiku berkata bahwa aku sangat merindukanmu, aku sangat mencintaimu dan aku sangat menyayangimu dari apa yang kau tahu.
“Aku baik-baik saja, Ran. Kamu sendiri apa kabar? Kamu habis dari mana, Ran? Sampai baju kamu basah begini,” jawab Shinta, seperti memiliki rasa khawatir padaku sambil memegang bajuku yang basah.
“Aku baik-baik saja kok. Tadi abis dari warung, kebetulan lewat rumah kamu. Eh malah hujan,” balasku, dengan
menamparkan senyuman khas.
“Oh, seperti itu. Ya sudah, kamu cepat ganti baju sana. Nanti sakit loh,” jawab Shinta, dengan suara yang lembut dan
menggoda.
“Oh iya, itu pasti kok. Oh ya udah, aku pulang duluan ya,” balasku.
“Ya sudah, hati hati ya,” jawab Shinta dengan menamparkan senyuman manisnya dan pergi meninggalkanku
seorang diri.

Aku pun kembali melanjutkan jalan pulang, dengan perasaan yang senang karena mantan kekasih yang dirindukan
telah menyapaku. Meski sapaan itu bukan untuk merujuknya, tapi setidaknya Shinta telah menyapa rindu ini. Rindu yang selalu berdemo memanggil namanya, tak kuat diri ini ‘tuk mencegahnya. Hingga sesampai di rumah sederhana berwarna hijau, beratapkan genteng dan dibentengi oleh dinding yang kuat itu adalah rumahku, rumah peninggalan dari Almarhum Ayah, yang berada di lingkungan perumahan dan kini aku tinggal bersama Ibu.
“Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bu, Ibuu …,” suara yang keluar dari mulutku, sambil mengetuk pintu rumah. Aku pun menunggu Ibu ‘tuk membuka pintu sambil tersenyum bahagia seperti layaknya orang jatuh cinta.
“Waalaikumusalam,” suara yang terdengar dari dalam rumah.
Pintu rumah pun terbuka lebar oleh Ibu. Ibuku pun membuka pintu rumah dengan mulut yang menguap sambil
mengucek-ngucek kedua matanya.
“Kamu sudah pulang, Nak? Baju kamu kenapa basah? Ganti baju sana,” tanya ibuku, dengan nada yang menyuruh.
Aku pun terdiam, dengan posisi kepala mengangkat sedikit ke atas seperti ada hal yang dilamunkan, sambil tersenyum bahagia. Ibuku hanya menatap wajahku dengan penuh heran oleh sikap anaknya. Tersontak, Ibu mengkagetkanku dengan menepuk pundak sekencang-kencangnya, layaknya anak nakal yang hiraukan ibunya.
“Eh, Randy! Ganti baju sana!” ucap ibuku, dengan nada membentak disertai oleh tempukan dahsyat ke pundakku.
“Iya, Bu, iya,” jawabku dengan nada yang mengeluh dan menahan rasa sakit pada pundaknya.
Aku pun mengiyakan permintaan Ibu dan pergi ke kamar. Di balik jendela kamar, aku menatap langit malam yang
menyajikan kesunyian dalam kegelapan. Di saat itu pula, terlihat ada bintang jatuh, aku pun menaruh harapan padanya, semoga esok hari ada keajaiban yang menimpa diriku. Hari sudah semakin malam, aku pun bergegas menghindar dari jendela kamar dan langsung menidurkan tubuh ke kasur yang sudah menanti.

Keajaiban itu benar tiba, aku tersontak gembira membaca pesan dari Shinta di pagi hari yang tampak ceria. Burung-burung memamerkan suaranya seperti ia turut bahagia, tetesan embun menjatuhkan diri ‘tuk menyejukkan suasana. Hari ini begitu indah, berbeda dengan hari yang biasanya. Mantan yang selalu dirindukan, akhirnya mengajakku untuk berkencan di salah satu restoran ternama di daerah Jakarta Selatan. Aku sudah tidak sabar ingin berkencandengannya, padahal ia mengajakku saat senja tiba. Dengan menunggu waktu, kuhabiskan untuk membaca buku. Buku yang ber-genre romansa menjadi favoritku, tak sadar sudah berapa rupiah untuk membeli buku tersebut. Tapi aku tak pernah menyesalinya, ia seolah teman baru di saat sang sepi menemani. Kata demi kata, paragraf demi paragraf, chapter demi chapter selalu bergulat dengan mataku yang mulai sayup. Serangan hawa kantuk mulai melanda diriku, dan aku tertidur di kursi yang berada di teras rumah.

Menjelang senja, aku terbangun oleh kebisingan suara anak kecil yang bermain di depan rumah. Ia berlari ke sana kemari tanpa ada rasa lelah, hingga terjatuh tanpa ada suara tangis yang melanda. Begitu bahagianya mereka, terjatuh tanpa menangis sedangkan aku terjatuh tapi tidak bisa move on. Hahaha mungkin beda masa, jadinya belum merasakan apa itu namanya cinta.
“Ah, shit! Ini jam berapa? Aku ‘kan mau ketemu Shinta,” ujarku dengan nada yang panik sambil menepuk kepala sendiri. Aku bergegas masuk ke dalam rumah, dan menatap jarum jam yang menunjukkan pada pukul 17.05 WIB. Hal yang terpikirkan adalah pelanggan setia ibu kota, ia tak pernah berhenti menyetubuhi dari pagi hingga menjelang larut malam. Aku hapuskan pikiran negatif tentang pelanggan setia ibu kota tersebut, aku bergegas untuk mandi dan memakai pakaian yang serba rapi, agar si Shinta terpikat lagi olehku. Semuanya telah rapi, aku menatap diriku di hadapan kaca. Terlihat sosok pria yang gagah dengan memakai kemeja batik, celana jeans berwarna biru donker, rambut yang klimis serta kumis tipis yang rapi, seolah ia akan menemui sosok yang didambakan selama ini. Tak ingin melihat dirinya menunggu, aku pun melangkah keluar ‘tuk menemui pujaan hati dengan sepeda motor yang sudah terparkir di halaman rumah. Sepeda motorku sudah siap untuk menggeluti pelanggan setia ibu kota, perlengkapan pun sudah disiapkan dari masker, helm, surat-surat kendaraan. Aku pun menyalakan sepeda motorku, dan memacu sepeda motor dengan kecepatan sedang. Aku nikmati perjalanan ini, diiringi oleh alunan musik yang
tersangkut di telinga. Hingga di tengah perjalanan aku melihat banyak bapakbapak memakai rompi hijau cerah, berseragam cokelat sedikit tua, mobil-mobil patroli yang terparkir di sana, sepertinya hari ini ada operasi zebra. Aku kurangin laju sepeda motorku, tapi salah satu pak polisi menghampiri dan memberhentikan laju sepeda
motorku. Ah, sial. Padahal aku sedang terburu-buru malah diberhentikan. Aku pun meminggirkan sepeda motor, agar tidak menghalangi jalan.
“Selamat sore, Mas. Boleh lihat STNK sama SIM-nya?”
tanya polisi itu, dengan hormat ke arahku. Dengan segera, kukeluarkan permintaannya pak polisi tersebut. Kuambil dompet dari saku celana belakang, dengan raut muka yang menahan sabar. Tanpa sepatah kata yang keluar dari
mulutku, menanti pak polisi selesai melihat kelengkapan kendaraanku.
“Terima kasih, maaf mengganggu perjalanan Anda,” lanjut Pak Polisi, dengan raut wajah yang senyum dan meminggir dari hadapanku. Ia kembali bertugas dan aku kembali memacu kendaraan lebih cepat agar Shinta tak lama menungguku. Lagi dan lagi, ada saja penghalangku di daerah Sudirman, datang juga pelanggan setia ibu kota.
“Ya Allah, kapan kemacetan ini bakal berakhir?” Teriakkan jiwaku. Jeritan ibu kota yang semakin menggila, ia tak pernah berhenti menikmatinya. Ah, sungguh sadis sekali, asap-asap kendaraan menyelimutinya, debu-debu jalanan sudah makanan sehari-harinya, cuaca yang tak menentu sudah menjadi rumahnya. Mungkin aku akan gila bila menikmatinya setiap hari, tapi di kota ini aku mencari nafkah, di kota ini aku dilahirkan, di kota ini juga aku merasakan cinta yang begitu dahsyat sekali.Sudah hampir lima belas menit aku terjebak di sini, padahal
tempat kencannya tinggal beberapa gedung lagi. Aku mencoba untuk menahan diri, berharap ia tak pergi telah menungguku sejak dini. Perasaanku semakin tak karuan, apa yang akan terjadi nanti, menantap matanya yang lucu. Ah, aku sudah tak sabar ingin cepat sampai dan bertemu.

Akhirnya, jalanan kembali lancar dan aku kembali memacu motorku, hanya beberapa gedung kulewati dan sampailah sudah restoran yang telah dijanjikan olehnya. Aku parkirkan kendaraanku di sisi sebelah kanan restoran,
menurunkan seluruh tubuh dari motor dengan harapan ada keajaiban yang menimpa diriku pada hari ini. Langkah kakiku mulai memasuki restoran, dengan degupan yang sangat kencang.Wow, begitu bagusnya restoran ini, baru pertama kali aku menginjak kakiku di sini. Pada meja nomor 15, terlihat wanita sangat cantik sekali, dengan pakaian yang sungguh mewahnya seperti ratu dari kerajaan. Dialah Shinta, orang yang aku ingin temui. Tapi, ia
didampingi oleh beberapa cowok di mejanya. Shinta melambaikan tangan dan memanggil namaku, sepertinya acara
segera dimulai. Aku pun menghampirinya, dan duduk di antara cowok-cowok yang tak pernah aku kenal kecuali si Fiqy, ia adalah mantan Shinta. Sebelumnya Shinta pernah berpacaran dengan Fiqy, dan putus.
“Terima kasih buat kalian yang udah hadir di sini, sebelumnya aku mengundang kalian ke sini bukan untuk
berkencan, tapi bersilahturahmi. Aku minta maaf, bila ada salah sama kalian selama kita pacaran,” ucap Shinta, dengan nada yang datar dan menundukkan kepalanya.
“Hah? Maksudnya, lelaki di sini itu mantan kamu semua?
Lalu buat apa kita dipertemukan?” tanyaku dengan rasa penuh kesal atas perbuatannya.
“Tujuannya buat menjalin silahturahmi dan ingin mengasih undangan pernikahan aku dengan Doddy,” balas Shinta, dengan raut wajah yang tersenyum sambil merangkul cowok di sampingnya. Mendengar perkataan dari Shinta, beberapa para mantannya pun pergi satu per satu dengan rasa yang penuh kekecewaan dan
kesal oleh perilakunya. Hanya aku saja yang bertahan, tak pergi dan masih menahan emosi yang terpendam. Ini sungguh gila, benar-benar gila. Shinta mengundangku ke sini dan membuang waktuku hanya untuk memperkenalkan mantan-mantannya dan undangan pernikahannya.
“Kalau tahu gini, aku enggak bakal datang ke sini. Buangbuang waktu saja,” ucapku dengan nada yang kencang sambil menggebrak meja. Gebrakan itu terdengar seluruh pengujung restoran. Aku pun pergi meninggalkannya, begitu sakit yang kurasakan. Tak kusangka Shinta memperlakukanku seperti ini. Penampilan terbaik untuk menyambutnya kembali, berujung oleh luka di hati. Sekarang aku tersadar, meski Tuhan mempertemukan kita lalu dipersatukan tapi bukan cinta kita yang sampai ke pelaminan. Dan kini, kunikmati saja cintaku yang tertusuk oleh belati cintanya, dan kutunggu ada saudagar cinta yang ingin membeli cintaku.

 


Pict: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *