Puisi: Kenangan Pada Maut

Kenanan Pada Maut
Karya: Anis Sabirin


Ah, mati itu kan tidak apa-apa
damai selepas senggara
tidur lena setelah sakit keras
sunyi lepaas keriuhan sia-sia.

Kenapa harus takut pada maut?
maut hanya pelabuhan sesudah lautan kencang
dia air dingin selepas api membakar
hujan sesudah kemarau
kemesraan setelah gelisah dan putus asa.

Tidak ada racun dalam piala bersinar
mana sengatnya, mati datang begitu manis dan lembut
tidak usah gentar pada kelam
gelap yang lunak memberi tenaga pada hati kering.

Mati adalah istirahat, adalah kedambaan
malaikat baik, datangnya seperti kekasih yang setia
dibimbingnya kita ke dunia tenteram.

Bila tiba waktunya buka pintu dengan tangan terbuka
ketuknya menjanjikan rahmat, keluasan alam seluruh
dari kemuncak gunung membentang bumi sekitar
alangkah merdeka dari ikatan
mata senyum pada kebebasan yang kekal.

Jangan takut pada mati, ia sahabat berbudi
ia bawa kerinduan, tanah hijau, langit sejuk
mati bakal lepaskan kita dari rantai derita.

*Puisi ini diterbitkan dalam buku “Kuntum Pertiwi Buku 3” diselenggarakan oleh Anwar Ridhwan, Rahman Shaari – Dewan Bahasa dan Pustaka – Kementerian Pendidikan Malaysia Kuala Lumpur 1991.

*Pict: Google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *